Ketika Aroma Dapur Menghidupkan Cerita




Sumber gambar: Pinterest


Setiap kali menyebut kata dapur, pikiran saya akan langsung membayangkan apapun yang ada di dapur yang menyangkut kegiatan memasak. Di kepala saya juga langsung muncul racikan masakan yang membuat rasa lapar semakin meningkat.

Dengan bergegas saya menuju ke dapur untuk memastikan racikan apa yang akan saya olah demi memenuhi keinginan makan.

Namun tiba-tiba menghadapi setumpuk piring kotor wajah saya langsung muram.. he he. Ini yang bikin mumet dan ga mood untuk melihat area dapur, tapi percayalah ada kalanya hal itu juga yang menjadikan kita betah di dapur, proses mencuci itu sendiri yang membuat kita merasakan sensasi kesejatian seorang ibu, halaah.. Urusan dapur berantakan memang hanya tangan ibu yang paling ampuh untuk membereskannya.

Lain halnya dengan saya, bila sudah berhubungan dengan dapur, selain memang urusan memasak, dapur menjadi tempat saya juga bekerja, bekerja menyelesaikan banyak naskah tulisan. Dari sana, saya menemukan hal-hal sederhana untuk menulis. 

Aroma masakan, bunyi gesekan piring dan gelas yang sedang dicuci, ikan yang sedang di goreng, bunyi wajan yang berulang kali terbentur dengan centong atau sendok, air yang sedang dituang ke dalam gelas, itu semua adalah irama yang kadang memunculkan ide menulis yang tak terpikirkan sebelumnya.

Terlebih ketika saya memasak dengan berbagai bumbu khas daerah, khususnya Aceh sebagai tempat kelahiran saya. Ada sensasi kerinduan pada sebuah kenangan sehingga membuat saya ingin menuangkannya dalam tulisan.

Memang masakan dengan resep dan aroma bumbu tertentu, memiliki kenangan yang tidak bisa menguap dari kepala begitu saja. Ia mengendap di memori, terlebih ketika aroma khas yang tercium, seolah kita merasakan kehadiran orang-orang terdekat. Begitulah adanya ruang dapur bagi diri saya,  ia menawarkan sesuatu yang hidup dan penuh kenangan yang bisa saya tuangkan ke dalam tulisan.


Memasak dan menulis di ruang dapur adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Di antara suara piring dan bunyi air mendidih serta aroma yang menyeruak di ruang tersebut, maka ide-ide menulis saya pun jadi semakin bermunculan. 

Dari harumnya masakan, kadang hadir kembali kenangan yang terlupakan selama ini. Saya bisa tiba-tiba menghentikan kegiatan masak dan langsung duduk di depan layar laptop lalu menuliskan apa yang bersileweran di kepala.


Saya tidak pernah membayangkan bisa menjalankan aktivitas menulis dengan nyaman di dapur, padahal bagi orang tertentu, ketika menulis ia membutuhkan tempat tersendiri dan menyepi untuk bisa menemukan ide menulis, tetapi bagi saya, dapur juga menjadi tempat yang menyenangkan untuk menuangkan berbagai perasaan dengan narasi yang unik.


Saya bisa mengatakan bahwa, sesekali kita juga perlu membawa peralatan menulis ke dapur, rasakan sensasi bau masakan yang menghadirkan aroma tulisan yang berbeda.

Sumber Gambar: Pinterest


Jika rasa lapar sedang menyerang, kita bisa menikmati masakan dengan membayangkan bagaimana menambahkan warna pada tulisan. Merasa aneh? tapi tidak ada salahnya mencoba sesekali. Menulis dalam suasana kesibukan memasak dan menikmati munculnya ide-ide liar tentang resep masakan warisan dari ibu dan nenek kita.


Dapur bukan hanya sekadar area memasak tetapi juga tempat meracik ide dan gagasan. Lihatlah bagaimana kemampuan menulis kita terbangun kembali dengan baik ketika menghirup aroma masakan ibu. Secangkir kopi buatan suami atau anak-anak yang dihidangkan juga memberikan sejumput cinta dan kasih sayang untuk kemudian memberi bobot tulisan kita yang menyentuh jiwa.


Aneka rasa yang menebar dari ruang dapur bukan hanya membangunkan selera, akan tetapi juga membuka ruang menuju dunia kata dan ide yang tak terbatas. Bau khas kayu manis, wangi harum bawang goreng yang ditaburi dalam kuah sop membawa pada sebuah kenangan bersama orang-orang tercinta. Dari sinilah tulisan kita terbangun, penuh cinta dan energi untuk melihat dunia.


Ruang dapur, ia juga menumbuhkan kepekaan untuk melihat hidup yang penuh makna. Begitulah, menulis selalu punya cara untuk menghadirkan kebahagiaan untuk saya.



2 komentar

  1. Takut ga berhenti ngemil kalo nulis di dapur wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he.. pasti itu, makan sambil nulis cerita

      Hapus